Habitat Kayu Meranti Beserta Manfaatnya dalam Ekonomi Sumberdaya Hutan
Tugas
Ekonomi Sumber Daya Hutan Medan, April 2019
HABITAT
KAYU MERANTI SERTA MANFAATNYA
DALAM
EKONOMI SUMBERDAYA HUTAN
Dosen Penanggungjawab
Dr. Agus Purwoko S.Hut, M.Si
Disusun Oleh
Rido Meiman Gulo 171201215

PROGRAM
STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS
KEHUTANAN
UNIVERSITAS
SUMATERA UTARA
HABITAT
KAYU MERANTI DAN MANFAATNYA
Mengenal
Tumbuhan Meranti
Meranti
termasuk keluarga Dipterocarpaceae. Secara harfiah, Dipterocarpaceae berasal
dari kata latin, yaitu di = dua, carpa=carpus=sayap, yang berarti
buah bersayap dua. Jenis Dipterocarpus (jenis-jenis Kruing), Cotylelobium
dan Anisoptera (jenis-jenis mersawa) umumnya bersayap dua, sedangkan
Hopea (jenis-jenis merawan), Parashorea dan Shorea (jenis-jenis
meranti, bangkirai dan balau) memiliki sayap bervariasi antara 2-5, namun Vatica
(jenis-jenis resak) memiliki sayap yang sangat pendek bahkan tanpa sayap.
Pohon meranti memiliki bentuk batang bulat silindris, dengan tinggi total
mencapai 40-50 m. Kulit kayu rata atau beralur dalam atau dangkal, berwarna
keabu-abuan sampai coklat. Pada umumnya berbanir tinggi sampai 6-7 m. Nama kayu
perdagangan meranti ditentukan dari warna kayu gubalnya, seperti meranti Putih,
meranti Kuning dan meranti merah.
Rataan riap diameter Shorea leprosula (meranti batu)
adalah 1,37 cm/tahun, sehingga kayu meranti dapat dipanen pada umur 30 tahun
setelah ditanam. Jika riap diameter meranti mencapai 1,8-2,0 cm/tahun, maka
kayu dapat dipanen pada umur 25 tahun.
Meranti pada umumnya berbunga dan berbuah 4-7 tahun sekali
yang disebut dengan musim berbuah masal. Di Arboretum Bogor ada jenis
Dipterokarpa lain yang berbuah tiap tahun yaitu Hopea odorata (merawan)
dan Anisopteramarginata Musim buah masak meranti bervarisi tergantung
jenis dan lokasinya. Di Hutan Penelitian Haur Bentes, Jasinga, jenis S.
leprosula, S. pinanga, S. stenoptera, S. mecistopteryx buah masak pada
bulan Desember-Maret, sementara Hopea mengerawan, Hopea sangal, H. odorata buah
masak pada bulan Juli-September. Di Sumatra, S. parvifolia dijumpai berbuah
pada bulan Desember Januari, Shorea acuminata berbuah pada bulan
Oktober-Desember.
Musim buah meranti sangat menentukan ketersediaan benih,
karena benih meranti merupakan benih rekalsitran yang cepat berkecambah
sehingga tidak dapat disimpan lama. Penyimpanan akan menurunkan
viabilitas (kemampuan berkecambah) benih. Meranti tergolong kayu keras berbobot
ringan sampai berat-sedang. Berat jenisnya
berkisar antara 0,3 – 0,86 pada kandungan air 15%. Kayu terasnya berwarna
merah muda pucat, merah muda kecoklatan, hingga merah tua atau bahkan merah tua
kecoklatan. Berdasarkan bijinya,
kayu ini dibedakan lebih lanjut atas meranti merah muda yang lebih ringan dan
meranti merah tua yang lebih berat. Namun terdapat tumpang tindih di antara kedua
kelompok ini, sementara jenis-jenis Shorea tertentu kadang-kadang
menghasilkan kedua macam kayu itu.
Menurut kekuatannya, jenis-jenis meranti merah dapat
digolongkan dalam kelas kuat II-IV; sedangkan keawetannya tergolong dalam kelas
III-IV. Kayu ini tidak begitu tahan terhadap pengaruh cuaca, sehingga tidak
dianjurkan untuk penggunaan di luar ruangan dan yang bersentuhan dengan tanah.
Namun kayu meranti merah cukup mudah diawetkan dengan menggunakan campuran
minyak diesel
dengan kreosot.
Kayu Meranti adalah salah satu jenis pohon idola. Kayu
Meranti ini tergolong kayu keras berkualitas nomor wahid. Kayu meranti
mempunyai banyak keistimewaan. Di antaranya, ‘istimewa’ karena memiliki batang
lurus, berdiameter besar, tinggi, bebas cabang, minim cacat mata kayu (karena
Meranti memiliki kemampuan pruning, yaitu pembebasan cabang pohon) alami secara
swadaya dan mandiri. Dan di antara tegakan Meranti yang sudah tumbuh besar dan
gagah, tumbuh anakan Meranti yang lemah. Menariknya, keberadaan pohon besar itu
justru melindungi anakan Meranti (yang lemah) sehingga anakan Meranti terbantu
tumbuh dengan keberadaan Meranti besar. Tidak sebaliknya, Meranti besar
menindas anakan Meranti yang baru berkembang.
Meranti menjadi rumah bagi sarang burung Punai, salah satu
burung indah yang sudah langka ditemukan. Selain fungsi ekologi, pohon Meranti
dapat berfungsi juga untuk:
- mengurangi dampak erosi,
- menyuburkan tanah dengan dekomposisi daun dan perkembangan mikoriza,
- peningkatan kelembaban perkebunan sawit
- meningkatkan sumber cadangan air.
Beberapa jenis meranti, antara lain: Lefrosula, Suria
Joreisus, Suria Parpefefula, dan Smetiana. Kayu yang diproduksi adalah kayu
yang berumur 25 Tahun ke atas yang berdiameter minimal 40 Cm.
2.2. Manfaat
Tumbuhan Meranti
Berbicara nilai ekonomi, Pohon Meranti menghasilkan kayu
keras dengan kualitas tinggi. Kayu meranti dijadikan sebagai bahan dasar untuk
membuat kursi-meja ekslusive, peti perhiasan, aneka cenderamata. Karena
kualitas yang tinggi, harga jual kayu meranti sangatlah ekonomis. Dan ini menjadi
alasan bahwa pohon meranti terus menjadi incaran para penebang kayu, baik yang
berstatus legal maupun ilegal.
Meranti merupakan salah satu kayu komersial terpenting di
Asia Tenggara. Kayu ini juga yang paling umum dipakai untuk pelbagai keperluan
di kawasan Malaysia. Kayu ini lazim dipakai sebagai kayu konstruksi, panil kayu
untuk dinding, loteng, sekat ruangan, bahan mebel dan perabot rumahtangga,
mainan, peti mati dan lain-lain. Kayu meranti merah-tua yang lebih berat biasa
digunakan untuk konstruksi sedang sampai berat, balok, kasau, kusen pintu-pintu
dan jendela, papan lantai, geladak jembatan, serta untuk membuat perahu.
Kayu meranti gampang di olah menjadi produk pertukangan
berupa kusen pintu jendela dll,kayu meranti sebagai kayu yang dapat dikerjakan
sangat mudah dan halus serat texturnya. Sebagian kayu meranti yang sudah
diperdagangkan tidak sesuai dengan standar baku ukurannya, biasanya kami sering
mendapatkan ukuran panjang (misal 4 m) tak ada sessuai dengan ukurannya,
sehingga menyulitkan bagi pertukangan untuk mengatur kayu dalm pembuatan
seperti kusen, pintu dan jendela.Harga kayu meranti yang tak begitu mahal
menjadikan pilihan bagi bahan pembuatan matrial kusen, pintu, jendela.
Meranti merah baik pula untuk membuat kayu olahan seperti
papan partikel, harbor, dan venir untuk kayu lapis. Selain itu, kayu ini cocok
untuk dijadikan bubur kayu, bahan pembuatan kertas. Di samping menghasilkan
kayu, hampir semua meranti merah menghasilkan damar, yakni sejenis resin yang keluar dari batang atau
pepagan yang dilukai. Damar keluar dalam bentuk cairan kental berwarna kelabu,
yang pada akhirnya akan mengeras dalam warna kekuningan, kemerahan atau
kecoklatan, atau lebih gelap lagi. Beberapa jenis meranti merah menghasilkan
buah yang mengandung lemak serupa kacang, yang dikenal sebagai tengkawang. Pada
musim-musim tertentu setiap beberapa tahun sekali, buah-buah tengkawang ini
dihasilkan dalam jumlah yang berlimpah-ruah; musim mana dikenal sebagai musim
raya buah-buahan di hutan hujan tropika. Di musim raya seperti itu, masyarakat
Dayak di pedalaman Pulau Kalimantan sibuk memanen tengkawang yang berharga
tinggi.
2.3. Penanaman
Tumbuhan meranti
2.3.1.
Pembangunan Persemaian
Salah satu faktor penting dalam penanaman kayu meranti,
adalah penyedian bibit yang bermutu. Penyediaan bibit meranti dapat dilakukan
pada persemaian permanen maupun persemaian tidak permanen. Untuk usaha
pertanian skala kecil misalnya sebagai tanaman sela dalam sistem wanatani
karet, persemaian tidak permanen dapat dibangun di dalam persemaian/nursery
karet (root stock). Lokasi yang dipilih untuk membangun persemaian harus
memiliki persyaratan sebagai berikut:
- lahan yang relatif datar, kemiringannya tidak lebih dari 5 %
- dekat dengan sumber mata air
- dekat dengan jaringan jalan dan mudah dijangkau.
2.3.2. Persiapan
Lahan Persemaian
Penyemaian benih meranti dapat dilakukan pada bedeng semai
atau bak semai berupa bak plastik.
- 1. Bedeng semai atau tabur.
- Buat bedeng semai berukuran 1m x 5m pada arah timur barat. Apabila membuat lebih dari satu bedeng semai, maka beri jarak antar bedeng 50 cm
- Beri pembatas bambu atau kayu di sekelilingnya
- Apabila penyemaian dilakukan pada bak semai, pilihlah ukuran bak sesuai kebutuhan
- Beri sungkup plastik untuk menjaga kelembaban udara
- Beri naungan tembus cahaya 50% dengan menggunakan sarlon atau atap rumbia atau anyaman daun kelapa. Tinggi tiang naungan pada sebelah barat 80 cm dan sebelah timur 100 cm
2. Media Semai.
Ada dua jenis media semai yang dapat digunakan dalam
penyemaian benih meranti yaitu:
- Pasir halus atau campuran serbuk gergaji dan sekam padi dengan perbandingan 1:1. Apabila akan menggunakan mikoriza, media semai dan media sapih sebaiknya disterilisasi dahulu dengan cara dikukus atau disangrai selama 6 jam. Sterilisasi bertujuan untuk membunuh jamur penyebab penyakit dan jamur lain yang ada dalam media.
- Pasir halus atau campuran sabut kelapa dan sekam dengan perbandingan 1:. Setelah media semai disiapkan, tabur di atas bedeng semai dengan1 ketebalan 5-10 cm dan disiram hingga kapasitas lapang.
2.3.3.
Penyemaian Benih
Sebelum disemai, benih meranti diskarifikasi terlebih dahulu
yaitu dipetik sayapnya dan dipilih biji yang sehat serta utuh. Penyemaian benih
meranti dapat dilakukan pada bedeng semai atau bak semai.
- Penyemaian pada bedeng semai:
- Buat jalur/garis pada bedeng semai dengan jarak 5 cm menggunakan kayu tugal (panjang 10 cm, diameter 1 cm)
- Letakkan benih sesuai dengan jalur/garis pada posisi tidur dan tidak terlalu dalam, sehingga bila benih berkecambah akan mudah mengangkat kotiledon
- Tutup atau taburkan media semai hingga menutupi benih
- Siram hingga kapasitas lapang
- Tutup sungkup plastiknya.
- Penyemaian pada bak semai:
- Tabur benih secara merata tanpa membuat jalur/garis
- Tutup dengan media semai
- Siram dengan embrat
- Simpan bak semai di dalam sungkup plastik
Pada
umumnya, benih meranti berkecambah 7-12 hari setelah disemai.
2.3.4. Penyapihan
Bibit
Apabila benih meranti yang disemai telah berkecambah dan
memiliki dua pasang daun, maka siap disapih. Penyapihan bibit dapat dilakukan
dengan memindahkan bibit dari bedeng semai atau bak semai ke kantong plastik.
Tahap-tahap dalam proses penyapihan bibit adalah:
- Membuat bedeng sapih.
- Buat bedeng sapih di persemaian dengan ukuran 1m x 5m.
- Beri pembatas bambu atau balok kayu di sekeliling bedeng sapih. Apabila membuat lebih dari satu bedeng sapih, maka beri jarak antar bedeng 50 cm.
- Tutup dengan sungkup bambu dan plastik setinggi 70 cm untuk menjaga kelembaban udara.
- Sebagai naungan, pasang atap rumbia atau anyaman daun kelapa atau sarlon tembus cahaya 50%
- Menyiapkan media sapih
- Ambil tanah dari bawah pohon induk, campurkan sekam padi dengan perbandingan 2:1.
- Ayak dengan ayakan kasar untuk memisahkan kerikil.
- Masukkan media sapih ke dalam kantung plastik berukuran 12cm x 15cm, atau 15cm x 20cm, tergantung dari ukuran bibit
- Letakkan di dalam sungkup plastik pada bedeng sapih.
- Penyapihan
- Gunakan kantung plastik yang telah diisi media sapih.
- Angkat bibit dengan hati-hati dari media semai, dengan tanpa merusak perakarannya.
- Buat lubang tanam pada media sapih dengan tugal kayu, sedalam perakaran bibit meranti.
- Masukkan akar ke lubang tanam yang tersedia, kemudian tutup dan tekan dengan perlahan.
- Siram hingga kapasitas lapang.
- Pelihara di dalam sungkup plastik di bedeng sapih, hingga bibit cukup beradaptasi, selanjutnya sungkup dapat di buka.
2.3.5. Pemeliharaan
Bibit
Bibit dipelihara di persemaian hingga mencapai tinggi 30-50
cm, atau kurang lebih 2-3 bulan. Setelah itu, bibit siap ditanam di lapangan.
Pemeliharaan bibit di persemaian meliputi:
- Pemupukan. Bila tidak dilakukan inokulasi mikoriza, berikan pupuk dasar (NPK) pada bibit di persemaian, dengan dosis 2 g/bibit.
- Pengendalian hama dan penyakit. Hama dan penyakit yang umum dijumpai di persemaian adalah:
- Ulat kantong (Cryotothelea sp.) dan ulat bulu (Dasychira sp.) yang menyerang daun.
- Hama penggerek batang (larva Scolytidae).
- Penyakit lodoh (damping off).
- Penyakit tumor pucuk disebabkan oleh virus yang disebarkan oleh serangga Arachnidae.
- Penyakit kerdil disebabkan oleh mikoplasma. Gejalanya: tumbuh kalus yang menumpuk seperti bola-bola kecil di ketiak cabang atau ranting muda.
- Penyakit mati pucuk (die back) yang disebabkan oleh jamur. Gejala: kematian pada pucuk menyebar ke bawah.
- Penyakit busuk daun (hawar/leaf blight), dengan gejala: kematian sel daun mulai dari ujung daun hingga ke tengah helaian daun.
Bila serangan hama/penyakit cukup tinggi, bibit dapat
disemprot dengan insektisida atau fungisida, sesuai dengan dosis yang
dianjurkan pada kemasan. (Contoh: Benomyl, Benlate).
Komentar
Posting Komentar